Tampilkan postingan dengan label Hoarding disorder. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hoarding disorder. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Juli 2024

Pemilik Kos Grebek Kamar Penderita Hoarding Disorder! Begini Penjelasannya

Baru-baru ini, seorang pemilik kos menggrebek kamar penyewanya dan mendapati banyak sekali timbunan barang yang tidak berguna. Ibu kos lantas menegur si penyewa, menyuruhnya untuk segera memberesi barang-barang yang ditimbun, serta pergi dari kamar kos tersebut keesokan harinya. Video tersebut ramai dibicarakan di media sosial oleh netizen. Banyak yang menduga bahwa si penyewa menderita hoarding disorder, lantas penyakit apakah itu ?

Pengertian Hoarding Disorder

Menurut Johnson dkk (2012), Hoarding disorder adalah seseorang yang kesulitan membuang barang-barangnya yang jumlahnya berlebihan dan berakhir dengan menimbun barang-barang tersebut. Bahkan meskipun barang-barang yang ditimbun tidak bernilai. Hoarding Disorder berbeda dengan mengoleksi barang normal, pengidap hoarding disorder memiliki gejala-gejala penimbunan yang berakibat pada kekacauan tempat yang ditinggali karena banyaknya barang yang ditimbun.

Penyebab Hoarding Disorder

Menurut Murniaseh (2020), beberapa hal yang bisa dijadikan alasan dari adanya hoarding disorder adalah sebagai berikut:
  1. Trauma atau kenangan  -  Beberapa penderita kesulitan untuk menyingkirkan barang-barang yang dimilikinya karena barang tersebut memiliki kenangan tersendiri. Atau di masa lalu si penderita pernah kehilangan suatu barang yang menyebabkannya sulit untuk melepas barang sejenis.
  2. Faktor genetik - Belum ada penelitian yang membuktikan bahwa perilaku hoarding disorder ini disebabkan oleh faktor genetik. Namun seseorang yang mempunyai orang tua atau kerabat dekat dengan kebiasaan ini beresiko tinggi untuk memiliki kebiasaan yang sama, hal itu karena biasanya anak cenderung meniru perilaku orang tua dan orang terdekatnya.
  3. Terlalu Sayang - Beberapa penderita kesulitan untuk membuang barang-barangnya karena terlalu sayang pada barang-barang tersebut. Sayang jika dibuang karena masih terlihat bagus, sayang juga jika suatu hari nanti barang-barang tersebut masih bisa digunakan.

Dampak dari Perilaku Hoarding Disorder

  1. Dampak Psikologis - Dalam beberapa kasus, hoarding disorder dapat menyebabkan konflik rumah tangga hingga perceraian karena pasangan dari si penderita tidak tahan dengan gaya hidup hoarder. Orang terdekat atau keluarga juga akan terganggu karena barang-barang pelaku bisa mengganggu ruang gerak anggota keluarga lainnya. Mereka mungkin juga akan malu jika ada kerabat yang berkunjung ke rumah dan mendapati barang-barang hoarder memenuhi suatu ruangan. Hal-hal tersebut sangat bisa menimbulkan suatu konflik antara hoarder dengan orang-orang terdekatnya.
  2. Dampak Lingkungan - Menurut Winda (2019), penumpukan barang-barang yang dilakukan oleh seorang hoarder dapat menyebabkan gangguan dari beberapa aspek, mulai dari hilangnya estetika suatu ruangan, sempitnya ruang gerak karena penggunaan ruangan yang tidak efisien, serta terbentuknya sarang-sarang hewan pembawa penyakit seperti tikus, kecoak, nyamuk, dan lain-lain. Barang-barang yang ditimbun pun akan mendatangkan debu yang bisa memicu penyakit seperti asma dan alergi.
  3. Dampak Kesehatan - Pengaruh dari penimbunan barang bisa memicu datangnya banyak penyakit, mulai dari asma yang diakibatkan oleh banyaknya debu-debu yang sulit dibersihkan, penyakit malaria yang berasal dari nyamuk-nyamuk yang bersarang, hingga leptospirosis (penyakit yang berasal dari kencing atau darah tikus).

Pengobatan Hoarding Disorder

Hoarding Disorder bisa diobati dengan psikoterapi dan pemberian obat-obatan. Selain itu, bisa juga dengan hal-hal berikut untuk membantu proses pemulihan, seperti mengelompokkan barang yang masih bisa digunakan dan yang harus dibuang, membuat jadwal untuk membersihkan ruangan setiap minggu, menyumbangkan barang yang masih layak pakai pada orang lain, serta mengambil foto ruangan sebelum dan sesudah dibersihkan. Jika anda merasa menderita hoarding disorder, segeralah berkonsultasi dengan dokter.